Lebih Awal Mendeteksi Anemia

Anemia merupakan penyumbang utama angka kematian ibu di Indonesia. Upaya mencegahnya dapat dilakukan dengan mengetahui sejak dini apakah seseorang anemia atau tidak. Penderita anemia di Indonesia sangat besar. Menurut data yang ada, jumlah penderita di negeri ini mencapai 30-55 persen dari total penderita di dunia yang mencapai 500-600 juta orang.

Menurut konsultan Hematologi Onkologi Medis FKUI/RSUPN-CM, Dr Syafrizal Syafei SpPD KHOM, masyakarat tak menyadari bahwa tubuh mereka sangat rentan terhadap penyakit. ”Apalagi, anemia itu datang tanpa kita sadari. Kita hanya bisa merasakan lelah, lemah, letih, lesu, lunglai. Ini kita singkat 5L,” katanya pada sebuah diskusi yang membahas anemia di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Anemia, lanjutnya, timbul akibat gizi utama tak tercukupi dengan baik. Ini menyebabkan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah menjadi tak normal sehingga fungsi Hb sebagai pembawa oksigen ke dalam tubuh tak berjalan dengan baik. Inilah yang mengakibatkan penderita mengalami penurunan nafsu makan, mata berkunang-kunang, dan memiliki sifat apatis. Dampak terparah anemia adalah menurunkan produktivitas kerja hingga 20 persen.
Syafrizal mengatakan, kecenderungan anemia lebih banyak terjadi pada perempuan karena siklus bulanan menstruasi yang membuat Kaum Hawa kehilangan darah. Anemia juga terjadi pada mereka yang tengah menjalani diet. ”Perempuan sangat rentan terhadap anemia. Saat ini bukan hanya masalah kurang gizi di masyarakat yang kurang mampu. Namun, masyarakat kelas atas juga terserang anemia karena masalah diet,” tuturnya.

Pada kesempatan berbeda Ketua Presidium Aliansi Pita Merah Putih Indonesia (APPI) Dr Srihartati P Pandi MPH mengatakan, anemia juga mengakibatkan kematian pada ibu hamil dan ibu melahirkan. Bahkan, anemia penyumbang terbesar jumlah angka kematian ibu (AKI) di Indonesia.

Berdasarkan SDKI2002-2003, AKI mencapai 307 per 100.000 kelahiran hidup. Ini merupakan AKI tertinggi di ASEAN. Setiap tahun angka kelahiran mencapai lima juta. Dari angka itu sekitar 20 ribu kehamilan berakhir dengan kematian akibat komplikasi dan melahirkan. Jadi, setiap jam dua orang ibu meninggal dan 20 bayi meninggal dari setiap 1.000 bayi yang dilahirkan.

”Faktor utama yang menyebabkan tingginya AKI di Indonesia adalah pendarahan yang terjadi ketika melahirkan maupun karena komplikasi kehamilan dan persalinan,” ujar Srihartati.

Berdasarkan data Survei Kesehatan Nasional 2001, angka anemia pada ibu hamil sebesar 40,1 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa anemia cukup tinggi di Indonesia. Bila diperkirakan pada 2003-2010 prevalensi anemia masih tetap atas 40 persen, maka akan terjadi kematian ibu sebanyak 18 ribu per tahun yang disebabkan pendarahan setelah melahirkan.
Ini kondisi dengan estimasi 3-7 persen ibu meninggal karena menderita anemia berat. Sebesar 20-40 persen ibu meninggal karena penyebab tak langsung anemia.

Deteksi dini
Meningkatnya angka kematian ibu melahirkan di Indonesia menjadi keprihatinan banyak pihak. Untuk itu, upaya pencegahan anemia sangat penting. Salah satu upaya adalah melakukan deteksi dini. Dengan alat deteksi seseorang dapat diketahui apakah terserang anemia atau tidak.

Di antara produsen alat pendeteksi anemia, PT Putera Segara Anakan (PSA) menjadi salah satu yang mengeluarkan produk yang dinamai HemoCue. Menurut Abdullah, penanggung jawab pemasaran HemoCue, detektor anemia dengan teknologi asal Swedia itu memiliki mekanisme kerja yang lebih sederhana dibandingkan alat pendeteksi anemia yang sebelumnya.
Penggunaannya, kata Dr Purwanto Kusumaputra, salah satu penanggung jawab distribusi, tidak membutuhkan laboratorium, atau alat pendukung lain. Pasien cukup diambil darahnya setetes, lalu darah itu diteteskan di atas plat penguji, dan plat dimasukkan ke alat tersebut. Dalam 15-45 detik layar pemantau menunjukkan angka Hb.

Hasil pemeriksaan itu menunjukkan apakah pasien menunjukkan gejala anemia atau tidak. Bila ternyata anemia, maka tinggal dicari penyebabnya. Di antaranya adalah kekurangan produksi sel darah merah, peningkatan tingkat kerusakan terhadap sel darah merah (thalassemia), pendarahan hebat (trauma, menstruasi), kekurangan zat besi, kurang gizi, gagal ginjal, dan malaria. Hasilnya pun dapat digunakan untuk kepentingan screening, monitoring, dan diagnosis.
Teknologi ini, lanjut Purwanto, teknologi ini memudahkan bidan, dokter, dan paramedis untuk mengetahui anemia sejak dini. Ini bisa menjadi cara untuk mencegah kematian dan dampak negatif lainnya akibat anemia.

HemoCue berukuran sebesar buku agenda dan kompatibel (dapat dengan mudah dibawa dan dipindahkan – Red). Karena mudah ditenteng dan dioperasikan alat bertenaga baterai, atau adaptor ini bisa digunakan di pusat kebugaran, rumah sakit, hingga ke rumah tinggal.

Abdullah menambahkan, teknologi ini mendapat rekomendasi dari badan dunia UNICEF dan WHO sehingga Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pun sudah meminta alat tersebut untuk digunakan oleh para atlet. ”Tingkat akurasi alat ini mencapai 99,9 persen,” tuturnya.

Product Manager PSA, Syahril SSi Apt menjelaskan, sistem teknologi ini terdiri atas dua komponen, yaitu Photometer untuk membaca hasil pemeriksaan dan Microcuvette sebagai pipet. Dengan demikian kesalahan akibat proses perjalanan sampel daerah ke laboratorium dan kesalahan pemberian label dapat dieliminasi. Sampel darahnya pun sedikit dan tak membutuhkan tenaga pelayanan pemeriksaan. Keuntungan lainnya adalah meminimalisasi infeksi.

http://www.republika.co.id/cetak_berita.asp?id=175364&kat_id=105&edisi=Cetak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: